Beda Nasib PSI dan Hanura di Kebon Sirih

DPRD DKI Jakarta 2019-2024 dihuni pendatang baru. Mereka adalah Partai Solidaritas Indonesia (PSI), debutan di Pemilu 2019 lalu. Namun, penghuni lama dengan 10 kursi di periode sebelumnya, yakni Hanura, kini tidak mendapat satu pun kursi parlemen di Kebon Sirih tersebut.

Langkah PSI tergolong moncer. Di DPR, mereka tak lolos karena suara yang diperoleh tidak mencapai parliamentary threshold. Namun di DPRD DKI Jakarta, mereka mendapat 8 kursi.

Jumlah tersebut lebih banyak dibanding partai-partai lain yang berusia lebih tua. Sebut saja, NasDem yang mendapat 7 kursi, Golkar dengan 6 kursi, PKB 5 kursi, dan PPP 1 kursi. Bahkan, Hanura tidak memiliki perwakilan sama sekali di periode 2019-2024.

Peneliti dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus menilai PSI berhasil meraup banyak suara karena menjual isu yang selama ini tak dipakai oleh partai lain. Di antaranya isu menolak poligami, toleransi, hingga peran penting dan semangat anak muda.

“Banyak masalah yang sekian lama mengintai kita tapi tidak ada Parpol yang secara terbuka menyuarakan karena sangat sensitif. Isu ini yang dipakai PSI untuk mendulang suara,” kata Lucius, Selasa (27/8).

Isu-isu tersebut, kata Lucius, tidak dijual oleh partai lain karena dianggap akan menghilangkan suara partai. Terlalu berisiko.

Lucius mulanya menganggap isu-isu tersebut memang berisiko merugikan partai jika dimainkan. Namun, alih-alih babak belur, PSI justru mendapat respons positif di kalangan masyarakat DKI Jakarta.

Keberhasilan PSI mendulang suara dengan isu sensitif, menurut Lucius, juga tak lepas dari dinamika Jakarta yang menerima pesan itu dengan baik. Terutama di antara kaum minoritas serta kalangan yang tak tersentuh partai-partai besar. Walhasil, mereka memilih untuk mendukung PSI.

Baca Juga  MPR Gelar Syukuran Bareng Tokoh Lintas Agama

“PSI bisa tidak mendapatkan simpati publik mengangkat isu yang membuat orang tidak nyaman, tapi ternyata lumayan juga,” ujarnya.

Ditambah lagi, sosok yang dihadirkan PSI adalah anak-anak muda yang dianggap bisa membawa perubahan. Dari sejumlah faktor ini, Lucius jadi menganggap wajar jika PSI memetik buah manis dari jualannya yang laris pula.

Diketahui, kader PSI yang terpilih sebagai anggota DPRD DKI Jakarta antara lain Idris Ahmad, Anthony Winza Probowo, Viani Limardi, Justin Adrian dan Anggara Wicitra Sastroamidjojo. Kemudian August Hamonangan, William Aditya Sarana dan Eneng Malianasari. Semuanya tergolong muda.

“Kini mereka (PSI) tinggal memetik buah manisnya, yang ternyata bermain di situasi ini, tidak mampus-mampus banget,” tegas dia.

Pengamat Politik Wasisto Raharjo Jati mengungkapkan hal senada dengan Lucius. Menurutnya, selama ini PSI memang berani menggunakan isu-isu yang berbeda dari partai lainnya.

Wasisto mengatakan PSI juga berani melawan isu SARA. Padahal, isu tersebut sangat kental sejak Pilgub DKI Jakarta 2017 lalu.

Kala itu, pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat dikalahkan oleh Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

“Isunya melawan stigma tabuh dalam benak orang Jakarta. Selama ini penduduk di Jakarta dihinggapi berbau SARA dan konservatisme. Tetapi PSI berusaha menandingi isu tersebut,” kata Wasisto, Selasa (27/8).

Meski demikian, ada pula kesan pesimis di benak Wasisto terhadap PSI. Terutama mengenai idealisme yang selama ini digaungkan mereka.

Wasisto menekankan bahwa PSI adalah partai politik. Idealisme memang umum digaungkan oleh partai yang baru terbentuk.

Namun seiring berjalannya waktu dan terkontaminasi oleh berbagai kepentingan, partai politik umumnya tidak lagi mempertahankan idealisme yang pernah digaungkannya. Itu berpotensi pula dilakukan oleh PSI.

“Masih rentan sebenarnya untuk mewujudkan partai idealis di Indonesia. Terlebih dengan sistem pemerintahan kita yang sekarang, tapi setidaknya mereka bisa memberi warna buat parlemen,” kata dia.

Baca Juga  Deddy Mizwar Sebut Duet dengan Dedi Mulyadi Belum Final

Wasisto mengamini bahwa PSI kerap bersikap vokal. Akan tetapi, PSI akan dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka hanya memiliki 8 kursi di DPRD DKI Jakarta.

Kondisi tersebut tentu membuat PSI tidak memiliki kekuatan besar dalam melakukan lobi-lobi. Tidak seperti PDIP, Gerindra atau PKS, yang memiliki 15-20 kursi.

Dengan begitu, idealisme PSI akan terkikis dengan sendirinya, karena harus kompromi dengan partai lain dalam parlemen.

“Setelah masuk sistem mengikuti kan bukan partai lagi tapi bersifat kolegial dan disini kita perlu PSI apakah menerima pendapat orang lain atau sebaliknya,” tutup dia.

Beda cerita, pahit dirasakan Partai Hanura yang tidak mendapatkan suara sama sekali di DPRD DKI. Pada periode sebelumnya Hanura mendapatkan 10 kursi namun kini tak mendapatkan krusi sama sekali.

Pengamat politik Adi Prayitno mengatakan bahwa itu merupakan konsekuensi dari konflik internal yang melanda Hanura. Menurutnya, akibat buruk yang sama juga dialami PPP di DPRD DKI Jakarta.

“Konflik internal pasti memakan korban. Efek yang paling terasa terjadi pada Hanura dan PPP,” ucapnya.

Pengamat Politik Pangi Syarwi Chaniago menilai faktor paling besar Hanura jatuh ialah hingga kini belum ada sosok ketokohan di tubuh partai tersebut. Terlebih, Hanura juga sempat dilanda konflik internal saat Pemilu 2019 lalu.

“Salah satu faktornya adalah sosok ketokohan. Sampai sekarang di internal partai masih dualisme, belum ada satu sosok. Ini yang menyebabkan anggotanya pesimistik,” kata Pangi.

Pada pemilihan presiden lalu, Hanura mendukung pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Akan tetapi, menurut Pangi, Hanura tidak berkontribusi banyak.

Hal itu membuat Hanura jadi semakin tidak terlihat di mata publik. Padahal, pilpres lalu bisa menjadi panggung bagi parpol-parpol untuk meningkatkan popularitas.

Baca Juga  Digadang Jadi Cawapres, Agus Yudhoyono Tak Pikirkan Hasil Survei

“Karena tidak ada kontribusi itu maka masyarakat tidak tahu soal Hanura dan memilih untuk ke partai lain,” ujar dia.

Faktor lain menurut Pangi adalah Hanura jarang muncul di media massa. Kedekatan dengan media massa, lanjutnya, penting bagi parpol untuk menjual janji-janji yang ditawarkan. Dengan begitu, masyarakat pun menjadi akrab dengan Hanura.

“Sehingga dengan begitu partai bisa menyampaikan visinya kepada masyarakat. Kalau keadaan seperti ini ya siapa yang tahu (Hanura)?,” tegas dia.

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *